Dendam

31 Mei 2015

Pembalasan dendam adalah rangkaian peristiwa yang tersusun dari amarah penuh kebencian yang kemudian dibumbui dengan keinginan menyakiti lebih dalam. Ramuan ini disempurnakan dengan menyeret serta jumlah korban (yang tidak mengerti apa-apa) lebih banyak.

Jangan kau kira orang yang membalaskan dendamnya akan merasa puas setelah apa yang dia lakukan. Tidak! Baca entri selengkapnya »

Iklan

Tulisan ini adalah pandangan saya terhadap fenomena #ShameOnYouSBY yang menjadi Trending Topic Wold Wide (TTWW) beberapa waktu lalu.

“Saya liat adik-adik di sini pada punya akun twitter. Siapa yang dulu ikut ngetwit hastag #ShameOnYouSBY ?” tanya saya pada peserta sosialisasi Insan Incakap Diskominfo PDE Riau, beberapa hari lalu.

Peserta yang merupakan ratusan siswa-siswi beberapa sekolah menengah pertama di Pekanbaru ini tidak ada yang mengangkat tangannya. Namun tiba-tiba, dari arah pintu justru terdengar ada yang teriak heboh “Saya, Pak!” jawab anak itu dengan penuh semangat sambil mengangkat tangannya. Saya langsung menarik tangan anak itu dan mengajaknya ke depan ruangan.

“Benar kamu ikut ngetwit #ShameOnYouSBY?” Tanya saya.

“Benar, Pak.” Jawabnya sambil cengengesan.

“Kamu tau artinya twit itu?” Tanya saya lagi

Dia garuk-garuk kepala. Maasih sambil cengar cengir melihat ke teman-temannya yang tertawa mengejeknya di pintu ruangan. Kemudian dia menggeleng.

“Kamu ga tau?”

“Ndak, Pak,” jawabnya.

Saya persilahkan dia kembali ke pintu ruangan.

Lihatlah.. satu orang rakyat Indonesia yang memiliki akun twitter, berkicau tentang sesuatu yang tidak difahaminya maknanya, tetapi dia turut andil menciptakan sebuah fenomena di dunia internet Indonesia khususnya sosial media. Fenomena itu bernama ‘Netizen Indonesia Bersepakat Menghina Pemimpinnya!’

Sejujurnya saya sangat sedih ketika menemukan ‘netizen Indonesia menghina presidennya’ menjadi sebuah tren perbincangan di dunia maya. Segitu parah kah etika kita terhadap pemimpin?

Kebebasan menyampaikan ekspresi di dunia maya sepertinya tidak dibarengi dengan kedewasaan sikap dan mental para penggunanya. Inilah salah satu sebab banyaknya muncul kasus pencemaran nama baik yang menjerat netizen Indonesia melalui UU ITE pasal 27 ayat (3). Termasuk yang paling parah, para pengguna internet tidak segan-segan melakukan penghinaan terhadap para pemimpin di negeri ini, hanya karena kebijakan yang tidak mereka sukai.

Ketika seseorang memiliki akun di sosial media, mereka merasa bahwa dia memiliki kebebasan menyampaikan apapun bahkan dengan cara bagaimanapun. Termasuk di antaranya menyampaikan keluh kesah dan caci maki terhadap individu atau kelompok lain yang dibencinya.

Apakah ini bagian dari demokrasi? Apakah ini bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM)? Saya tidak faham tentang kedua poin itu (demokrasi dan HAM). Yang saya fahami, apakah kita hidup di dunia nyata atau beraktifitas di dunia maya, menyampaikan kritik di depan umum, apalagi sampai mencaci maki, bukanlah sesuatu yang beretika.

Secara kejiwaan, seseorang, apalagi orang yang terkenal atau memiliki jabatan penting, akan memunculkan sifat proteksi atau melindungi keselamatan harga dirinya ketika ada orang lain yang mencoba mematahkan apa yang disampaikannya, di depan publik. Ingat, di depan publik! Menyampaikan kritik di dunia maya sama dengan menyampaikannya di depan publik.

Lain halnya ketika kritikan tersebut disampaikan dengan cara lemah lembut secara personal. Sifat egois mempertahankan pendapat dari orang yang dikritik ini akan lebih melunak, karena dia merasa harga dirinya masih terlindungi.

(Catatan: Paparan tentang sifat seseoranga di atas adalah pandangan penulis dari pengalam membaca dan mendengar. Bisa shohih bisa dhoif :D )

Kembali ke etika netizen di Indonesia terhadap para pemimpinnya, saya bertanya-tanya apakah mereka yang berhasil menciptakan TTWW dengan menghina presidennya itu kemudian merasa bangga? Ketika saya memperhatikan beberapa akun yang ngetwit hastag itu, jawabannya iya. Bahkan mereka seperti khawatir ketika rangking hastag itu menurun bahkan hilang, mereka berusaha mengangkatnya kembali. Na’udzubillah mindzalik

Namun, dari pengalaman yang saya share di awal tulisan ini, saya cukup merasa bahagia bahwa di depan saya, ada ratusan siswa siwi yang tidak terpengaruh ikut-ikutan twit itu. Dan ini bukannyang pertama, beberapa waktu lalu, di depan siswa-siswi dari sekolah yang berbeda, saya menemukan kondisi yang sama.

Hal ini menjadikan saya yakin bahwa di tengah belantara linimasa, masih banyak netizen Indonesia yang menjaga etika terhadap pemimpinnya. Walaupun mereka mungkin kecewa terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat, mereka tetap bersabar, menyampaikan pendapat dengan bahasa dan cara yang santun dan terus mendo’akan yang terbaik untuk para pemimpinnya. Semoga

Pak Jokowi dan Pak JK,
Saya tidak termasuk rakyat Indonesia yang memberikan suara untuk Bapak berdua. Namun, Allah sudah menetapkan takdir-Nya, Anda menjadi pemimpin di negeri bernama Indonesia ini.

Pak Jokowi dan Pak JK,
Sebagai seorang blogger, seperti mungkin blogger lainnya di negeri ini, secara mainstream akan menulis sesuatu di hari pelantikan Bapak berdua. Baik itu perasaan suka cita, harapan, bahkan hingga perasaan duka cita. Dan tentunya tidak ada harapan saya bahwa tulisan ini Bapak baca :D Baca entri selengkapnya »

Jika Demokrasi

28 September 2014

#ShameOnYouDemokrasu

Jika demokrasi mengajarkan rakyat untuk menghujat, menghina dan mempermalukan pemimpinnya, biarlah aku bodoh akan dia

Judul-judulan

4 Oktober 2013

“70 persen Istri di Dumai Gugat Cerai Suami”, demikian judul salah satu berita di halaman depan sebuah harian di Pekanbaru.

image

Judul yang sangat mengerikan! Bayangkan saja, 70 persen istri di kota Dumai, Provinsi Riau, tidak bahagia dan akhirnya menggugat cerai istrinya. Ya, begitulah kesimpulan pertama yang saya ambil begitu membaca judul berita tersebut.
Baca entri selengkapnya »