Mas Kuantan

21 Mei 2016

“Assalamu’alaikum, Mas..” ujar seseorang kepadaku sebelum Ia menanyakan sebuah alamat.

Bukan sekali ini saja aku dipanggil, Mas. Bahkan dia mungkin orang yang ke seratus sekian.

Pernah sekali yang cukup parah, di  Pekanbaru ini juga. Seseorang menegurku lantas mengajakku berbiacara dengan bahasa jawa. Ya aku cuma bisa bilang “Maaf, Mas.. Saya bukan orang Jawa.”
Baca entri selengkapnya »

Iklan

Beberapa minggu ini aku memutuskan untuk tidak login di akun Fesbuk via HP. Alasan awalnya sih karena aplikasi itu terasa makin berat dan memforsir kinerja hp.

Sementara itu, sudah lama aku tidak memantau timeline twitter, walaupun masih login di hp.

Ternyata, hidup terasa lebih nyaman. Paling tidak, berkurang hal-hal yang harus difikirkan. Ya, memantau timeline cukup menyita fikiranku. Memikirkan apa yang harus diupdate, memikirkan informasi yang lalu lalang di linimasa. Ah, sungguh melelahkan.

Namun, untuk lepas dari itu mungkin belum bisa. Sesekali aku masih memantau timeline via laptop. Hanya beberapa menit.

Coba deh, hidup terasa lebih nyaman tanpa sosmed.

Menikmati Asap

13 September 2015

Kamu tau,
Terkadang aku berfikir bahwa masyarakat Riau, Pekanbaru khususnya, sebenarnya sudah tidak peduli dengan kondisi kota berasap atau tidak.
Buktinya, saat kondisi asap pekat di kota ini, tidak menghalangi keinginan masyarakat untuk bermalam mingguan.

Yang ingin nongkrong di pinggir jalan, tetap nongkrong dengan atau tanpa masker. Yang balap liar.. Ahh.. Pake helm aja ga mau, apalagi cuma masker. Baca entri selengkapnya »

Rugi

28 Maret 2015

Aku pernah merasa sangat rugi akan ilmu dunia, ketika seorang teman berkonsultasi kepada pakar yang berasal dari luar negeri dengan bahasa Inggris. Sementara aku hanya mengerti beberapa kata saja dari yang diucapkan mereka.

Kemarin, aku merasakan kerugian yang sangat dalam ketika aku tidak bisa menggali ilmu agama dari seorang ulama asal mesir yang duduk disampingku karena tak mampu berbahasa Arab.

Teman, ilmu mana yang kan engkau cari, kuasai dua bahasa itu.

… Sebelum Terlambat

10 Januari 2015

Beberapa hari yang lalu mama cerita tentang sebuah keluarga. Ceritanya keluarga ini memiliki seorang ayah yang tidak bertanggung jawab. Bahkan, sang ayah dengan tega meninggalkan keluarganya tanpa kabar yang jelas.

Perginya sang ayah sepertinya menimbulkan rasa kebencian yang sangat dalam di hati anggota keluarga yang ditinggalkan.

Tahun demi tahun berlalu, sang ayah pun telah sampai di usia senjanya. Suatu ketika, sang ayah pun datang mengunjungi anak-anaknya yang telah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing. Sang ayah tidak segagah masa mudanya. Kondisi badan pun dah lemah. Saat itu, sang ayah yang datang dengan membawa buntalan sarung berisi beberapa helai pakaian. Ia mengeluhkan sakitnya dan minta diantar berobat.

Namun, kondisi sang ayah dan luka di hati sang anak menyebabkan keinginannya untuk berobat tidak terwujud.

Lelah mengunjungi anak-anaknya, sang ayah hanya mendapat jawaban, “Lagi banyak kerjaan.” Atau yang lain menjawab, “Ndak sempat.”

Akhirnya, sang ayah pun kembali ke tempat dia tinggal yang berada di seberang pulau. Tak lama berselang, sang ayah pun meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Alhamdulillah saya memiliki orang tua yang tidak seperti sang ayah. Bisa jadi, saya akan melakukan yang sama dengan anak-anaknya ketika saya mengalaminya.

Dan ketika itu terjadi, yang ada tinggal penyesalan yang terlambat.

Ah.. Jadi rindu Papa rahimahullah. Allahummaghfirlahu.. Tempatkan ia di sisimu yang terbaik ya Allah..