Etika Netizen Indonesia Terhadap Pemimpinnya

22 November 2014

Tulisan ini adalah pandangan saya terhadap fenomena #ShameOnYouSBY yang menjadi Trending Topic Wold Wide (TTWW) beberapa waktu lalu.

“Saya liat adik-adik di sini pada punya akun twitter. Siapa yang dulu ikut ngetwit hastag #ShameOnYouSBY ?” tanya saya pada peserta sosialisasi Insan Incakap Diskominfo PDE Riau, beberapa hari lalu.

Peserta yang merupakan ratusan siswa-siswi beberapa sekolah menengah pertama di Pekanbaru ini tidak ada yang mengangkat tangannya. Namun tiba-tiba, dari arah pintu justru terdengar ada yang teriak heboh “Saya, Pak!” jawab anak itu dengan penuh semangat sambil mengangkat tangannya. Saya langsung menarik tangan anak itu dan mengajaknya ke depan ruangan.

“Benar kamu ikut ngetwit #ShameOnYouSBY?” Tanya saya.

“Benar, Pak.” Jawabnya sambil cengengesan.

“Kamu tau artinya twit itu?” Tanya saya lagi

Dia garuk-garuk kepala. Maasih sambil cengar cengir melihat ke teman-temannya yang tertawa mengejeknya di pintu ruangan. Kemudian dia menggeleng.

“Kamu ga tau?”

“Ndak, Pak,” jawabnya.

Saya persilahkan dia kembali ke pintu ruangan.

Lihatlah.. satu orang rakyat Indonesia yang memiliki akun twitter, berkicau tentang sesuatu yang tidak difahaminya maknanya, tetapi dia turut andil menciptakan sebuah fenomena di dunia internet Indonesia khususnya sosial media. Fenomena itu bernama ‘Netizen Indonesia Bersepakat Menghina Pemimpinnya!’

Sejujurnya saya sangat sedih ketika menemukan ‘netizen Indonesia menghina presidennya’ menjadi sebuah tren perbincangan di dunia maya. Segitu parah kah etika kita terhadap pemimpin?

Kebebasan menyampaikan ekspresi di dunia maya sepertinya tidak dibarengi dengan kedewasaan sikap dan mental para penggunanya. Inilah salah satu sebab banyaknya muncul kasus pencemaran nama baik yang menjerat netizen Indonesia melalui UU ITE pasal 27 ayat (3). Termasuk yang paling parah, para pengguna internet tidak segan-segan melakukan penghinaan terhadap para pemimpin di negeri ini, hanya karena kebijakan yang tidak mereka sukai.

Ketika seseorang memiliki akun di sosial media, mereka merasa bahwa dia memiliki kebebasan menyampaikan apapun bahkan dengan cara bagaimanapun. Termasuk di antaranya menyampaikan keluh kesah dan caci maki terhadap individu atau kelompok lain yang dibencinya.

Apakah ini bagian dari demokrasi? Apakah ini bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM)? Saya tidak faham tentang kedua poin itu (demokrasi dan HAM). Yang saya fahami, apakah kita hidup di dunia nyata atau beraktifitas di dunia maya, menyampaikan kritik di depan umum, apalagi sampai mencaci maki, bukanlah sesuatu yang beretika.

Secara kejiwaan, seseorang, apalagi orang yang terkenal atau memiliki jabatan penting, akan memunculkan sifat proteksi atau melindungi keselamatan harga dirinya ketika ada orang lain yang mencoba mematahkan apa yang disampaikannya, di depan publik. Ingat, di depan publik! Menyampaikan kritik di dunia maya sama dengan menyampaikannya di depan publik.

Lain halnya ketika kritikan tersebut disampaikan dengan cara lemah lembut secara personal. Sifat egois mempertahankan pendapat dari orang yang dikritik ini akan lebih melunak, karena dia merasa harga dirinya masih terlindungi.

(Catatan: Paparan tentang sifat seseoranga di atas adalah pandangan penulis dari pengalam membaca dan mendengar. Bisa shohih bisa dhoif :D )

Kembali ke etika netizen di Indonesia terhadap para pemimpinnya, saya bertanya-tanya apakah mereka yang berhasil menciptakan TTWW dengan menghina presidennya itu kemudian merasa bangga? Ketika saya memperhatikan beberapa akun yang ngetwit hastag itu, jawabannya iya. Bahkan mereka seperti khawatir ketika rangking hastag itu menurun bahkan hilang, mereka berusaha mengangkatnya kembali. Na’udzubillah mindzalik

Namun, dari pengalaman yang saya share di awal tulisan ini, saya cukup merasa bahagia bahwa di depan saya, ada ratusan siswa siwi yang tidak terpengaruh ikut-ikutan twit itu. Dan ini bukannyang pertama, beberapa waktu lalu, di depan siswa-siswi dari sekolah yang berbeda, saya menemukan kondisi yang sama.

Hal ini menjadikan saya yakin bahwa di tengah belantara linimasa, masih banyak netizen Indonesia yang menjaga etika terhadap pemimpinnya. Walaupun mereka mungkin kecewa terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat, mereka tetap bersabar, menyampaikan pendapat dengan bahasa dan cara yang santun dan terus mendo’akan yang terbaik untuk para pemimpinnya. Semoga

Iklan

2 Tanggapan to “Etika Netizen Indonesia Terhadap Pemimpinnya”

  1. profijo said

    Butuh eksis, akhirnya terbawa arus……

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: