Kakatua dan Kalimat Laa Ilaaha Illallah

11 September 2014

Ada seorang guru agama yang mengajarkan Aqidah kepada murid2nya. Dia mengajarkan “Laa ilaaha illallah” kepada mereka dan menjelaskan maknanya, mendudik mereka dengan keteladanan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Ketika mengajarkan aqidah beliau berusaha menanamkanya kedalam jiwa murid-muridnya.

Sang guru itu senang memelihara burung dan kucing. Lalu seorang muridnya pun menghadiahkan padanya seekor burung kakatua

Makin hari sang guru pun senang dengan burung itu dan sering membawanya pada saat mengajar murid-muridnya sehingga kakatua itu belajar mengucapkan kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah”.

Burung kakatua itupun selalu  mengucapkannya (laa ilaaha illallah) siang malam.

Suatu ketika murid-murid mendapati sang guru tengah menangis. Ketika ditanya beliau menjelaskan dengan terbata-bata bahwa seekor kucing telah menerkam kakatua dan membunuhnya.

Merekapun bertanya dgn heran: “Karena inikah engkau menangis? Kalau anda menginginkan kami bisa datangkan burung lain bahkan yg jauh lebih baik”

Sang guru berkata: Bukan karena itu aku menangis. Tetapi…Yang membuat aku menangis karena ketika diserang kucing, burung itu hanya teriak-teriak saja sampai matinya. Padahal dia sering sekali mengucapkan kalimat “laa ilaaha illallah”.

Tetapi ketika diterkam kucing ia lupa kalimat itu, tidak mengucapkan apapun kecuali hanya teriakan dan rintihan!

Itu adalah karena waktu itu (ketika hidup) ia hanya mengucapkan “laa ilaaha illallah” dengan lisannya saja. Sementara hatinya tidak memahami dan tidak menghayatinya!

Sang guru pun berkata: Aku khawatir kalau nanti kita seperti kakatua itu,  saat kita hidup mengulang-ulang  kalimat  “laa ilaaha illallah” dengan lisan kita, tapi ketika maut datang kita pun lupa! Tidak bisa mengingatnya, karena hati kita belum menghayatinya.

Kemudian para muridnya pun menangis, khawatir tidak jujur terhadap kalimat tauhid ini.

Pembaca…. apakah kita telah menanamkan kalimat “laa ilaaha illallah” ini kedalam hati sanubari kita?

Tidak ada sesuatupun yg naik kelangit yang lebih agung dibanding keikhlasan.

Dan tidak ada sesuatupun yg turun ke bumi yang lebih agung dari taufiq Allah.

Sesuai kadar keikhlasan kita taufiq Allah kita dapatkan.

Ini termasuk hal-hal menarik yg sampai kepadaku, hadiah bagi orang-orang yang kucintai, dan para pembaca blog ini.

*Dari status seorang saudara dalam sebuah grup di whatsapp, dengan editing sekedarnya tanpa merubah makna

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: