Teguhkan Hatinya, Ya Allah

8 Agustus 2014

Saya berusaha menahan air mata saat sampai di depan rumah panggung yang terbuat dari kayu itu. Ketika saya mengucapkan salam, seorang pria usia 40an tahun menjawab salam saya sambil beranjak dari tempat duduknya. Dari jendela saya bisa melihat dia sedang membaca Al Qur’an sepulang dari masjid tadi.

Ya, rasanya setiap saya sholat berjamaah di masjid, bapak ini dan seorang anak lelakinya berusia 12 tahun selalu hadir di sana. Tak pernah terlambat, dan selalu mendapat shaf terdepan.

Dengan logat jawanya yang masih kental, bapak itu mempersilahkan saya masuk. Seorang anak balita terlihat menikmati botol susunya yang berisi air putih(?) “Iya, itu air putih dicampur gula sedikit,” jawab pria itu.

Duh.. Ya Allah.. Begitu banyak rezki-Mu yang selama ini kulupakan.. Betapa tidak bersyukurnya hamba dengan kehidupan hamba yang jauh lebih sempurna darinya.. Masih juga hamba berani bermaksiat kepada-Mu..

Saya memperkenalkan diri saya dan kemudian dia menyebut namanya Paryo.

Saya mencoba membuka obrolan. Saya tanya dia biasa mengaji di mana, karna saya lihat dia berpakaian mengikuti sunnah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam, celana tidak isbal (di atas mata kaki) dan memakai gamis. Lantas dia mengatakan dulu pernah mengikuti pengajian sebuah aliran.

Namun yang buat saya kaget, beliau sudah lama ikut pengajian itu (walau sekarang sudah tidak lagi), namun Ia mengaku belum lama belajar dan mengerjakan sholat. Jadi apa yang dikerjakan jamaah pengajian itu menjadi pertanyaan bagi saya.

Lantas dia bercerita kenapa pergi ke masjid yang kalau dihitung jauh dari rumahnya, mungkin antara 3-5 km. Sementara agak dekat dari rumahnya ada sebuah musholla. Ternyata dia takut kalau di musholla itu tidak ada jamaah sholat, sehingga nanti dia bingung mau sholat ikut siapa.

Sehari-hari Pak Paryo mencari nafkaf dengan mengumpulkan telur semut/serangga. Katanya untuk mengumpulkan telur-telur semut itu Ia menempuh jarak hingga puluhan kilometer ke pinggiran kota Pekanbaru.

Hasilnya kemudian dijual kepada para pedagang burung untuk dijadikan makanan burung. Hasil penjualan itulah yang digunakan untuk menghidupi keluarganya.

Ohya, cerita nengenai anak laki-laki yang selalu diajaknya saat ke masjid, ternyata anak tersebut sudah putus sekolah. Bahkan Ia belum menamatkan sekolah dasarnya. Kata Pak Paryo, tahun depan akan sekolah lagi. Mudah-mudahan saja.

Sungguh, seharusnya menjadi motivasi bagi kita karena dengan segala kekurangan hidupnya itu, Pak Paryo masih tetap berusaha hadir di masjid setiap waktu sholat tiba dan membaca Al Qur’an. Meskipun begitu, Ia tak lupa berusaha mencari nafkah untuk keluarganya.

Semoga Allah memberikan kebaikan kepada Pak Paryo sekeluarga, dan semoga Allah menjadikannya tetap istiqomah menjalankan syariat agama Islam yang haq ini. Aamiin..

*Ditulis di akhir Ramadhan dan diselesaikan di pertengahan syawal 1435H

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: