Datuk Maringgih: Maaf Memaafkan Itu Urusan Hari Raya

31 Juli 2014

Dulu pernah nonton serial Siti Nurbaya di TVRI. Salah satu pernyataan yang begitu terkenal ketika itu di antara twman-temanku adalah pernyataan yang diucapkan oleh Datuk Maringgih, tokoh antagonis di serial itu. Dialognya kira-kira begini (CMIIW: red): “Urusan maaf memaafkan itu urusan hari raya, Nurbaya!”

Mungkin bagi sebagian atau banyak orang, meminta atau memberikan maaf harus menunggu momen tertentu, biasanya hari raya Idul Fitri. Karena bagi muslim di Indonesia, ungkapan “Mohon Maaf Lahir dan Bathin” terdengar begitu menggaung di saat itu.

Sebagian lain menunggu momen jelang Ramadhan untuk meminta memberi maaf.

Kemudian begitu Idul Fitri berlalu, ketika ada seseorang yang menyakiti hati kita, kita lantas berkata “Baru saja Idul Fitri lewat dah bikin sakit hati lagi,” seolah-olah memang Idul Fitri adalah saat yang paling afdol untuk saling memaafkan.

Padahal, ketika kita menyakiti orang lain, secepatnya kita harus memohon maaf. Sebagaimana kita dianjurkan untuk segera bertaubat dan memohon maaf serta ampunan Allah ketika kita berbuat dosa dan maksiat.

Atau, kita berlapang dada untuk segera memaafkan orang yang bersalah kepada kita.

Namun, begitulah karakter kita, selalu menunda-nunda untuk saling meminta atau memberi maaf, sedangkan kita tak tahu kapan dia atau kita dipanggil menghadap Allah sehingga tertutup kesempatan untuk bermaafan..

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: