Belajar

7 Desember 2013

Beberapa hari yang lalu, dalam diskusi santai di Sapulidi Center, Saya dan teman-teman dari komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru bertemu dengan beberapa mahasiswa UIN Suska Riau. Para mahasiswa ini tergabung dalam relawan UIN Suska Mengajar.

Menurut salah seorang relawan, UIN Suska Mengajar adalah sebuah gerakan yang memberikan kemudahan belajar kepada masyarakat Riau yang ada di pelosok-pelosok daerah. Kegiatan ini dilakukan sekitar 3 minggu selama libur semester. Salah satu daerah yang pernah mereka datangi adalah daerah Suku Talang Mamak di alah satu kabupaten di Riau.

Ada satu kisah menarik dari pengalaman para relawan tersebut ketika mengajar di Talang Mamak. Suatu pagi,  seorang relawan bernama Reza bangun dari tidur dan mendapati beberapa anak Talang Mamak sedang berada di sekitarnya. Kemudian, salah seorang dari anak tersebut berkata bahwa Ia dan teman-temannya bercita-cita ingin seperti Reza.

Penasaran, Reza menanyakan alasan anak-anak tersebut ingin seperti dirinya. Ternyata alasannya sederhana. Anak-anak tersebut hanya ingin bisa belajar sampai ke perguruan tinggi. Mereka ingin menjadi mahasiswa.

Bukanlah sebuah profesi yang dicitakan anak-anak tersebut. Mereka hanya ingin belajar dan terus belajar. Karena belajar adalah suatu hal yang mahal, dan barang langka di kalangan mereka. Bisa menyelesaikan sekolah dasar saja bisa dibilang sebuah keajaiban.

Berpindah ke sebuah daerah lain, masih di Riau.

Dalam sebuah break makan siang saat pelatihan internet dasar untuk para guru, Saya mendengar sebuah obrolan antar sesama peserta pelatihan. Ketika itu seorang ibu guru yang menjadi peserta pelatihan mengeluh karena ternyata di sekolahnya yang terpencil tidak ada akses internet. Jadi Ia merasa apa yang dipelajari akan sia-sia. Keluhan itu ditanggapi oleh temannya dengan sebuah pernyataan, ‘Sudah.. tak usah fikirkan pelajarannya, yang penting bayar, isi absen, nanti dapat sertifikat..’

Sebuah pernyataan yang membuat saya, sebagai pengajar saat itu sangat terpukul. Bagaimana tidak, untuk mencapai tempat pelatihan itu dari Pekanbaru tempat saya tinggal, memakan waktu hingga enam jam lebih. Dan sampai di sana, saya mendapati peserta pelatihan saya, para guru, tidak memiliki semangat untuk belajar. Bagaimana para guru ini akan menularkan semangat belajar kepada siswanya, sementara semangat itu tidak mereka miliki.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: