Hosam from Palestine

11 Oktober 2013

Kisah ini bermula di kios foto copy, tak jauh dari rumahku, siang tadi. Tiga orang pria berwajah Arab terlihat bertanya tentang suatu benda kepada penjaga kios. Dia menunjuk-nunjuk foto yang ada di ponselnya. Bahasa yang mereka gunakan bercampur baur, ada bahasa Arab, Inggris dan sedikit Indonesia.

Tak lama kemudian seorang di antara mereka menghampiriku.

“Mmm… Mister, You… eee..  You… Motor.. Motor,” ucapnya dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah, sambil bergaya seperti orang mengendarai motor.

“Yes, I have motor,” jawabku sambil menunjuk motorku yang diparkir di depan kios.

“Oh.. good.. good. Please help me. This is no good. I want to buy,” Ia menunjukkan beberapa foto di ponselnya seperti Ia menunjukkan kepada penjaga kios tadi.

Ternyata mereka ingin membeli keran air yang baru karena keran mereka sudah no good (rusak) hehe.. Sampai bagian ini aku merasa bahasa Inggrisku jauh lebih baik daripada pria itu.

“Can we go buy this?” Ujar pria tadi lagi.

“Oke, You can go with me. Let me finish my order first.” jawabku.

“Thank you mister… thank you mister,” ujarnya, yang juga diikuti teman-temannya yang lain.

Setelah urusanku di kios fotocopy itu selesai, maka aku pun pergi mengantarkan pria Arab tadi ke toko bangunan untuk membeli keperluannya.

“Where are You from?” Tanyaku mencoba membuka percakapan dengan pria Arab yang sekarang kubonceng. Percakapan antara dua orang yang kurang fasih berbahasa Inggris. Hehe..

“Palestine. I am from Palestine,” jawabnya.

“Mmm mister, what your name?” Dia balik bertanya kepadaku.

“Taufik,” jawabku

“Oh.. Are you Moslem?”

“Ya,” jawabku sambil mengangguk.

“Alhamdulillah.. Alhamdulillah. I am Moslem too. My name Hosam,” katanya memperkenalkan dirinya.

Dan demikianlah, sepanjang perjalanan aku dan Hosam (mencoba) menikmati percakapan dengan keterbatasan pemahaman bahasa kami.

Hosam menceritakan keputusannya untuk meninggalkan negerinya yang masih dilanda perang tak berkesudahan. Ia menceritakan bagaimana di tempatnya, sebuah daerah di Palestina yang selalu terdengar desingan peluru atau bom yang meledak. Setiap hari selalu ada yang mati.

Karena itulah, menurutnya -dari pemahamanku- kemudian Ia mengikuti pasukan United Nation (UN) meninggalkan Palestina dengan tujuan mencari suaka di Rep. Fuji. Ia juga memboyong istrinya yang tengah hamil anak pertama mereka.

Dalam perjalanannya kemudian Ia ditangkap oleh pihak Imigrasi Pekanbaru dan ditempatkan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru yang terletak di belakang Bandar Serai.

Selain Hosam, di Rudenim Pekanbaru ini terdapat banyak warga negara asing yang bermasalah dengan keimigrasian. Menurut pengakuannya ada sekitar 250 orang, berasal dari Palestina, Iran, Irak dan Afganistan. Tidak hanya pria, di Rudenim ini juga ada wanita dan anak-anak.

Wajah-wajah non Indonesia penghuni Rudenim sebenarnya tidak asing lagi bagiku yang tinggal tidak begitu jauh dari tempat itu. Setiap hari aku melewatinya dan menyaksikan kegiatan mereka.

Kadang mereka terlihat berbelanja di warung-warung di sekitar tempat itu. Kadang mereka hanya berjalan-jalan sore di sekitar kawasan Bandar Serai. Bahkan pernah beberapa kali aku melihat mereka ada yang berjalan kaki di seputaran fly over Jl Sudirman – Jl Tuanku Tambusai yang jaraknya sekitar 3 km dari Rudenim.

Ya, walaupun mereka statusnya sebagai tahanan imigrasi, namun sepertinya bebas melakukan aktivitas sehari-hari di luar Rudenim.

Penghuni Rudenim ini juga selalu berganti-ganti selang beberapa bulan. Dulu pernah ada yang berasal dari Srilanka. Hampir setiap sore mereka melakukan permainan olah raga seperti di kampung mereka di kawasan Bandar Serai.

Hosam sendiri sudah menghuni Rudenim selama 3 bulan, dan tidak tahu kapan akan meninggalkan tempat itu. Dia juga mungkin tidak tahu apakah akan sampai ke Rep. Fuji seperti yang diinginkannya, atau justru dikirim kembali ke Palestina.

“Thank you mister.. Thank you, Taufik.. Thank you my friend,” ujarnya sambil menyalamiku, setelah kami sampai di depan Rudenim usai berbelanja keperluannya.

“You’re welcome, My friend.”

Iklan

9 Tanggapan to “Hosam from Palestine”

  1. ruru said

    Thanks mr taupik

    Suka

  2. anazkia said

    Nggak tukeran nope atau apa, Bang? Biar terus ada silaturrahim

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: