Komitmen Sebagai Manusia

24 Maret 2013

Beberapa hari yang lalu membaca berita tentang dugaan kelalaian pihak rumah sakit yang menyebabkan meninggalnya seorang pasien anak kecil. Kata berita, sang pasien diterlantarkan di ruang IGD dan tidak mendapat tindakan dari dokter sampai si anak meninggal. Sedih dan turut berduka atas musibah tersebut.

Lebih kurang 4 tahun yang lalu, di sebuah rumah sakit swasta di Pekanbaru, seorang pria gelisah menanti kelahiran anak ke duanya. Perasaan gelisah bertambah memuncak karena selain si anak harus segera dilahirkan dalam kondisi belum cukup bulan atau prematur, ternyata diperparah dengan kondisi janin yang lemah dan tak bisa mendorong dirinya untuk keluar.

“Istri Bapak harus segera dioperasi. Saya minta surat pernyataan dari Bapak untuk menyetujui operasi ini,” ujar dokter Suryo yang menangani proses persalinan istrinya.


Sang pria tertunduk lemas. Tidak ada persiapan biaya untuk operasi, apalagi jadwalnya yang lebih cepat beberapa bulan dari perkiraannya.

“Saya butuh tanda tangan Bapak dulu agar istri Bapak bisa segera dioperasi. Mengenai urusan administrasi, saya yang jaminkan dulu ke pihak rumah sakit. Nanti setelah operasi baru Bapak cari,” lanjut dokter tersebut.

Ahh.. sebuah pernyataan yang melegakan bagi sang pria, paling tidak, sang istri dan janinnya bisa diperjuangkan untuk diselamatkan lebih dahulu.

Singkat cerita, alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Istrinya harus dirawat di ICU beberapa hari, dan si bayi, anak perempuan yang cantik, harus dirawat di ruang inkubator selama seminggu.

Dua cerita yang memiliki setting lokasi sama, namun berakhir berbeda.

Saya bukan seorang dokter, sehingga saya tidak tahu apakah ada dalam kode etik seorang dokter yang mengharuskan menyelesaikan biaya administrasi

dulu sebelum mendapat pengobatan. Begitu juga pihak rumah sakit. Namun sebagai manusia yang menjadi makhluk sempurna di muka bumi ini, apakah begitu sulitnya untuk membuat sebuah komitmen menolong nyawa manusia ketimbang memikirkan keuntungan dari jasa yang kita berikan?

Ah.. sekali lagi.. saya bukan dokter, jadi saya belum pernah merasa berada di posisi mereka. Saya hanya berharap masih banyak dokter seperti dr. Suryo yang bersedia pasang badan untuk menolong nyawa manusia, walaupun hanya beberapa jam hingga selesainya operasi.

Iklan

3 Tanggapan to “Komitmen Sebagai Manusia”

  1. Riau Magz said

    Semoga tidak terjadi lagi musibah yang sama di masa mendatang

    Suka

  2. miris bangettt.
    selain itu juga biaya berobat mahal bangetttttt….
    baru 3 hari yg lalu berobat ke s*****a, cuma cek aja kena 1,5 juta :(

    Suka

  3. riau said

    Semoga tidak ada lagi korban2 berikutnya, dan jaminan kesehatan bagi warga miskin mampu dioptimalkan,

    Suka

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: